Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Perayaan ulang tahun budaya paganisme

Ilustrasi. (S O C I A L . C U T on Unsplash)

Masyarakat kuno dari tiga bangsa, yakni Mesir, Yunani dan Romawi merupakan generasi pertama yang merayakan ulang tahun atau hari lahir dan dikaitkan dengan ritual keagamaan serta kepercayaan akan mitos dewa-dewi serta roh-roh yang bergentayangan.

Pada 3.000 tahun Sebelum Masehi, Firaun merayakan hari lahir yang diduga kuat merupakan waktu penobatannya menjadi ‘tuhan’.

Dalam buku The Lore of Birthdays dinyatakan bahwa orang Yunani kuno percaya bahwa setiap orang memiliki roh yang menghadiri kelahirannya dan berjaga-jaga untuknya.

Roh itu memiliki hubungan mistik dengan tuhan pada hari dilahirkannya orang tersebut.

Kuatnya mistisme dalam perayaan hari lahir sejak awal kemunculannya menjadi alasan bagi sebagian orang Kristen tidak merayakan ulang tahun karena menganggapnya sebagai ritual paganisme (menyembah banyak tuhan) yang bertentangan dengan Bibel.

Bahkan, merayakan kelahiran disebut sebagai tradisi kafir yang beranggapan bahwa roh-roh jahat mengintai pada hari-hari besar, seperti saat seseorang berusia setahun lebih tua.

Gereja Kristen menganggap perayaan ulang tahun sebagai kesesatan selama beberapa ratus tahun pertama keberadaannya.

Menurut mereka, satu-satunya yang perlu diperingati adalah kematian, bukan kelahiran, dan itu pun hanya berlaku untuk kematian Yesus.

Bibel mencatat dua perayaan ulang tahun saja, yaitu Firaun dan Herodes yang keduanya dikisahkan secara buruk.

Kitab Matius pasal 14 ayat 6 menyebutkan: “Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes.”

Sementara itu, Bibel mengisahkan perayaan anak-anak Ayub yang tidak ditegaskan sebagai pesta ulang tahun, namun sangat mungkin merupakan acara tersebut.

Hal itu dinyatakan dalam kitab Ayub pasal 1 ayat 4 dan 5 yang berbunyi: “Anak-anaknya yang lelaki biasa mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing menurut giliran dan ketiga saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka; Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: ‘Mungkin anak-anakku  sudah berbuat dosa  dan telah mengutuki Allah di dalam hati.’ Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.”

Pesta tersebut jelas bukan perayaan yang berhubungan dengan tuhan karena jika demikian maka Ayub tidak akan khawatir bahwa anak-anaknya mungkin berbuat dosa selama perayaan itu. Dia tidak benar-benar yakin apa yang sedang terjadi dalam pikiran anak-anaknya, sementara perayaan ulang tahun memicu kekhawatiran besar pada dirinya.

Sekitar abad ke-4, orang-orang Kristen berubah pikiran dan mulai merayakan ulang tahun Yesus sebagai hari libur Natal.

Perayaan baru tersebut diterima oleh gereja dengan harapan dapat menarik mereka yang sudah merayakan hari Romawi Saturnalia yakni festival penghormatan bagi dewa matahari setiap tanggal 17-23 Desember.

Simbol paganisme

Namanya juga perayaan, maka pesta ulang tahun pun pasti ramai dengan kue yang di atasnya ada batang-batang lilin sejumlah umur orang yang berulang tahun, kemudian ditiup sembari mengucapkan harapan agar terjadi di masa depan.

Jason DeRusha menulis dalam situs minnesota.cbslocal.com bahwa lilin-lilin itu merupakan respons terhadap roh-roh jahat. Mereka muncul untuk berkomunikasi dengan para dewa dalam bentuk cahaya dalam kegelapan.

Sementara itu, orang-orang Yunani kuno (1200 – 900 Sebelum Masehi) mempersembahkan kue berbentuk bulan kepada Artemis sebagai bentuk penghormatan kepada dewi bulan, berharap dia menciptakan kembali cahaya bulan dan kecantikannya.

Makanya, mereka juga meletakkan lilin-lilin di atas kue guna mendapatkan cahaya yang melambangkan pancaran dewi bulan.

Adapun perayaan hari lahir bagi anak, terutama usia satu tahun, telah lama dilakukan oleh masyarakat China.

Di Jerman perayaan ulang tahun bagi anak atau kinderfeste dimulai pada tahun 1700-an dengan membuat kue yang dipasangi lilin di atasnya. Satu batang lilin mewakili satu tahun kehidupan dengan tambahan lainnya untuk melambangkan harapan hidup setidaknya satu tahun lagi.

Meniup lilin sambil membuat permintaan juga merupakan bagian dari perayaan hari lahir.

Kue ulang tahun dengan lilin yang menyala belum sepenuhnya memeriahkan perayaan ulang tahun.

Lagu Happy Birthday to You akan melengkapi perayaan ulang tahun, dan biasanya dinyanyikan sesaat sebelum meniup lilin.

Mengutip Huffpost, pada tahun 1893,  dua guru dari Kentucky, Amerika Serikat yakni Patty Hill dan Mildred J. Hill menulis lagu yang mereka beri judul Good Morning To All.

Lagu tersebut dimaksudkan untuk dinyanyikan oleh siswa sebelum kelas dimulai. Lagu itu akhirnya tersebar di seluruh Amerika, dan memunculkan banyak variasi.

Pada tahun 1924, Robert Coleman menerbitkan buku nyanyian dan menambahkan beberapa lirik pada lagu itu dan kini dikenal dengan judul Happy Birthday To You.

Belakangan, perayaan ulang tahun terutama bagi anak-anak disemarakkan dengan beragam acara hiburan dengan mendatangkan badut, tukang sulap, seniman lukis wajah, serta macam-macam permainan.

Sumber: www.reuters.com; www.huffpost.com; rcg.org; www.forbes.com; minnesota.cbslocal.com

Penulis: Share Salaam

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *